CERPEN
Sebagai kenangan di masa SMA, disini akan saya sampaikan
sedikit ilmu yang mungkin tidak akan saya pelajari lagi. Jika ada kesalahan
diharapkan member komentar sebagai periksa. Disini saya akan menyampaikan
tentang cerpen.
Cerpen merupakan karya sastra yang termasuk dalam prosa baru
atau pseudonim, yaitu jelas pengarangnya. Didalam cerpen terdapat beberapa ciri
atau karakter didalamnya.
Ciri-ciri cerpen yaitu:
-
Dapat terbaca sekali duduk
-
Tidak terjadi perubahan pelaku
-
Konflik sederhana dan hanya terdiri satu konflik
dalam satu cerpen
-
Kata tidak lebih dari 10.000
Cerpen terdiri dari
dua unsur yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik yaitu unsur
yang membangun cerpen dari dalam cerpen itu sendiri. Unsur ekstrinsik yaitu
unsur yang membangun cerpen dari luar.
Unsur-unsur intrinsik meliputi :
-
Tema, yaitu permasalahan yang diangkat dalam
cerpen secara umum
-
Tokoh,yaitu orang-orang yang berperan atau
pelaku didalam cerpen
-
Penokohan, yaitu bagaimana karakter tokoh dalam
cerpen
-
Setting atau latar meliputi waktu kejadian,
suasana yang dialami pelaku dan tempat kejadian.
-
Plot (alur), yaitu jalannya cerpen yang meliputi
maju, mundur dan campuran.
-
Point of view, yaitu sudut pandang yang
digunakan oleh pengarang dalam penulisan cerpen
-
Majas, gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen
-
Amanat, yaitu pesan yang ingin disampaikan oleh
pengarang kepada pembaca
Unsur-unsur ekstrinsik meliputi :
-
Religius : mengangkat cerita tentang keagamaan
-
Sosial : tentang kehidupan sosial dalam
masyarakat
-
Budaya : cerita tentang kebudayaan disuatu
wilayah
-
Ekonomi : cerita yang diangkat tentang
perekonomian
-
Pendidikan : menceritakan tentang lingkungan
pendidikan
-
Politik : mengangkat cerita dalam ruang lingkup
politik
DINASTI UMAYYAH
Kerajaan
Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin
Abu Sufyan pada tahun 41 H/661 M di
Damaskus dan berlangsung hingga pada tahun 132 H/ 750 M. Muawiyah bin Abu Sufyan
adalah seorang politisi
handal di mana
pengalaman politiknya sebagai Gubernur Syam pada
zaman Khalifah Ustman bin Affan cukup mengantarkan dirinya mampu
mengambil alih kekusaan dari genggaman
keluarga Ali Bin Abi Thalib.
Tepatnya
Setelah Husein putra Ali Bin Thalib dapat dikalahkan oleh Umayyah dalam pertempuran di Karbala. Kekuasaan dan
kejayaan. Dinasti Bani Umayyah mencapai puncaknya di zaman Al-Walid. Dan
sesudah itu kekuasaan mereka menurun. Silsilah keturunan Muawiyah bin Abi
Sufyan bin Harb bin Umayyah bin Abdi
Syamsi bin Abdi Manaf bertemu dengan Nabi Muhammad SAW pada Abdi Manaf.
Turunan Nabi dipanggil dengan keluarga Hasyim (Bani Hasyim), sedangkan
keturunan Umayyah disebut dengan keluarga Umayyah (Bani Umayyah). Oleh karena
itu Muawiyah dinyatakan sebagai pembangun Dinasti Umayyah (Sou’yb,1997:7).
Umayyah adalah
pedagang yang besar dan kaya, yang mempunyai 10 anak laki-laki yang semuanya
mempunyai kekuasaan dan kemuliaan, di
antaranya Harb, Sufyan dan Abu
Sufyan. Dan Abu Sofyanlah yang pernah menjadi pemimpin pasukan Quraisy melawan
Nabi pada perang Badar Kubra.
Dilihat dari sejarahnya,
Bani Umayyah memang begitu kental
dengan kekuasaan. Ketika terjadi Fathul
Makkah Abu Sufyan diberi kehormatan untuk mengumumkan pengamanan Nabi
SAW, yang salah
satunya adalah barang
siapa masuk ke dalam rumahnya maka amanlah dia, selain
masuk masjid dan rumahnya Nabi (Hasan,1993:282).
Hal ini
berlanjut pada masa khulafah al-rasyidin, Yazid bin Abi Sufyan ditunjuk oleh
Abu Bakar memimpin tentara Islam untuk membuka daerah Syam. Dan masa Khalifah Umar diserahi
jabatan Gubernur di Damaskus.
Hal yang sama dilakukan Umar adalah menyerahkan daerah Yordania kepada
Muawiyah. Bahkan setelah Yazid wafat, daerah yang diserahkan kepadanya
diberikan kepada Muawiyah. Setelah Umar
wafat dan digantikan Ustman, maka kerabatnya dari Bani
Umayyah (Ustman termasuk dari
Bani Umayyah) banyak yang
menguasai pos-pos penting dalam pemerintahan. Pada masa
Ustman inilah kekuatan
Bani Umayyah, khususnya
pada Muawiyah semakin
mengakar dan menguat.
Ketika dia
diangkat menjadi penguasa
pada wilayah tertentu dalam jangka yang panjang dan terus-menerus. Sebelumnya dia telah menjadi Wali Damaskus selama 4 tahun,
yaitu pada masa Umar, lalu Ustman menggabungkan baginya daerah Ailah
sampai perbatasan Romawi dan sampai
pantai laut tengah secara keseluruhan. Bahkan dia membiarkannya memerintah daerah
tersebut selama 12 tahun penuh, yaitu sepanjang masa kekhilafahannya
(al-Maududi,1993:146-147). Kekuasaan Muawiyah pada wilayah Syam tersebut
telah membuatnya mempunyai basis rasional untuk karier politiknya.
Karena penduduk Syam yang diperintah Muawiyah mempunyai ketentaraan yang kokoh, terlatih dan terpilih di garis depan dalam melawan Romawi. Mereka bersama-sama dengan bangsawan Arab dan
keturunan Umayyah yang berada
sepenuhnya di belakang
Muawiyah dan memasoknya
dengan sumber-sumber
kekuatan yang tidak
habis-habisnya, baik moral,
manusia maupun kekayaan (Mufrodi,1997:70). Pada
realitasnya banyak sejarawan
yang memandang negatif
terhadap Muawiyah, karena keberhasilannya dalam perang siffin dicapai
melalui cara abitrase yang curang. Dia juga dituduh sebagai penghianat
prinsip-prinsip demokrasi yang diajarkan
Islam. Karena dialah yang mengubah model
suksesi kepala negara dari proses demokrasi menuju sistem monarkhi.
Masa
pemerintahan Bani Umayyah terkenal
sebagai suatu era agresif, karena banyak kebijakan politiknya yang berrtumpu kepada usaha perluasan wilayah dan
penaklukan. Hanya dalam jangka
90 tahun, banyak
bangsa yang masuk
kedalam kekuasaannya.
Daerah-daerah itu meliputi Spanyol,
Afrika utara, Syria,
Palestina Jazirah Arab,
Iraq, Persia, Afganistan, Pakistan, Uzbekistan, dan wilayah Afrika Utara
sampai Spanyol. Namun demikian, Bani
Umayyah banyak berjasa
dalam pembangunan berbagai bidang, baik politik, sosial,
kebudayaan, seni, maupun ekonomi dan militer, serta teknologi komunikasi. Dalam
bidang yang terakhir ini, Muawiyah
mencetak uang, mendirikan dinas pos dan
tempat-tempat tertentu dengan
menyediakan kuda yang
lengkap dengan peralatannya di sepanjang
jalan, beserta angkatan bersenjatanya yang kuat.
Latar belakang berdirinya Daulah Umayyah :
Perselisihan antara Ali bin Abi Tholib dangan Muawiyah
bin Abi Sofyan akhirnya pecah dalam perang shiffin, dan diakhiri dengan
peristiwa Tahkim yang menyebabkan munculnya golongan khowarij (kelompok Ali bin
Abi Tholib yang tidak menerima hasil Tahkim).Peristiwa terbunuhnya Ali bin Abi
tholib oleh Ibnul Muljam dari kelompok khowarij.
Sepeninggal Ali Bin Abi Tholib pemerintahan
dilanjutkan putranya Hasan Bin Ali yang berlangsung hanya 3 bulan, posisinya
yang semakin lemah membuat beliau berkeinginan mempersatukan umat agar tidak
terjadi pertumpahan darah sesama umat Islam dengan menyerahkan pemerintahan
kepada Mu’awiyah bin Abi Sofyan, peristiwa ini disebut AMUL JAMAAH
·
PROSES
BERDIRINYA KEKHALIFAHAN UMAYYAH
Suksesi
kepemimpinan secara turun-temurun dimulai ketika muawiyah mewajibkan seluruh
rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya, Yazid muawiyah bermaksud
mencontoh monarchi di Persia dan Bizantium. Dia memang tetap menggunakan
istilah Khalifah, namun dia memberikan interpretasi baru dari kata-kata itu
untuk mengagungkan jabatan tersebut, dia menyebutnya “Khalifah Allah” dalam pengertian
“Penguasa” yang diangkat oleh Allah
·
KEDUDUKAN KHALIFAH
Walaupun
Muawiyah mengubah sistem pemerintahan
dari musyawarah menjadi monarkhi, namun Dinasti ini
tetap memakai gelar Khalifah. Namun ia
memberikan interpretasi baru untuk mengagungkan jabatan tersebut. Dia
menyebutnya ‘Khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa” yang diangkat Allah
dalam memimpin umat dengan
mengaitkannya kepada al
Qur’an (2:30).
Atas dasar ini
Dinasti menyatakan bahwa keputusan-keputusan Khalifah berdasarkan atas kehendak Allah, siapa yang
menentangnya adalah kafir (Pulungan, 1997:167-168). Dengan kata lain
pemerintahan Dinasti Bani Umayyah bercorak
teokratis, yaitu penguasa yang
harus ditaati semata-mata
karena iman. Seseorang
selama menjadi mukmin
tidak boleh melawan khalifahnya, sekalipun
ia beranggapan bahwa
Khalifah adalah seseorang yang
memusuhi agama Allah dan
tindakan-tindakan Khalifah tidak
sesuai dengan hukum-hukum syariat. Dengan demikian, meskipun pemimpin Dinasti
ini menyatakan sebagai Khalifah akan tetapi dalam prakteknya memimpin umat
Islam sama sekali berbeda dengan
Khalifah yang empat sebelumnya, setelah Rasulullah.
·
PARA PENGUASA BANI UMAYYAH
- v Muawiyyah bin abi Sofyan ( 661-680)
- v Yazid Bin Mu’awiyyah ( 680-683)
- v Muawyah Bin Yazid (683-684)
- v Marwan bin Hakam (684-685)
- v Abdul Malik Bin Marwan(685-705)
- v Al Walid Bin Abdul Malik(705-715)
- v Sulaiman Bin Abdul Malik(715-717)
- v Umar Bin Abdul Aziz (717-720)
- v Yazid Bin Abdul Malik (720-724)
- v Hisyam Bin Abdul Malik(724-743)
- v Walid Bin Yazid (743-744)
- v Yazid Bin Walid (744)
- v Ibrahim Bin Walid (744-745)
- v Marwan Bin Muhammad(745-750)
·
KHOLIFAH-KHOLIFAH TERKENAL BANI UMAYYAH
- § Mu’awiyah Bin Abi Sofyan
- § Abdul Malik Bin Marwan
- § Al Walid Bin Abdul Malik
- § Umar Bin Abdul Aziz
KHULAFAUR RASYIDIN
A. Pengertian Khulafaurrosyidin
Khulafaur Rasyidin (bahasa
Arab: الخلفاء الراشدون) atau Khalifah
Ar-Rasyidin adalah empat orang khalifah (pemimpin)
pertama agama Islam, yang
dipercaya oleh umat Islam sebagai penerus kepemimpinan Nabi Muhammad setelah ia
wafat. Empat orang tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang
tercatat paling dekat dan paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di
saat masa kerasulan Muhammad. Keempat khalifah tersebut dipilih bukan
berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam
Sistem
pemilihan terhadap masing-masing khalifah tersebut
berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap
tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang
bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung. Namun penganut paham Syi'ah meyakini
bahwa Muhammad dengan
jelas menunjuk Ali bin
Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad menginginkan keturunannyalah yang
akan meneruskan kepemimpinannya atas umat Islam, mereka merujuk kepada salah
satu Hadits Ghadir Khum.
Secara resmi
istilah Khulafaur Rasyidin merujuk pada empat orang khalifah pertama Islam,
namun sebagian ulama menganggap bahwa Khulafaur
Rasyidin atau khalifah yang
memperoleh petunjuk tidak terbatas pada keempat orang tersebut di atas,
tetapi dapat mencakup pula para khalifah setelahnya yang kehidupannya
benar-benar sesuai dengan petunjuk al-Quran dan Sunnah Nabi. Salah
seorang yang oleh kesepakatan banyak ulama dapat diberi gelar khulafaur rasyidin adalah Umar bin
Abdul-Aziz, khalifah Bani Umayyah ke-8
B. Abu Bakar As Shiddiq (632-634 H)
Sebagai
pemimpin umat Islam setelah Rasul, Abu Bakar disebut Khalifah Rasulillah
(Pengganti Rasul) yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja.
Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi wafat untuk menggantikan
beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.
Abu Bakar
menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M ia meninggal dunia. Masa
sesingkat itu habis untuk menyelesaikan persoalan dalam negeri terutama
tantangan yang ditimbulkan oleh suku-suku bangsa Arab yang tidak mau tunduk
lagi kepada pemerintah Madinah. Mereka menganggap bahwa perjanjian yang dibuat
dengan Nabi Muhammad SAW, dengan sendirinya batal setelah Nabi wafat. Karena
itu mereka menentang Abu Bakar. Karena sikap keras kepala dan penentangan
mereka yang dapat membahayakan agama dan pemerintahan, Abu Bakar menyelesaikan
persoalan ini dengan apa yang disebut Perang Riddah (perang melawan
kemurtadan). Khalid ibn Al-Walid adalah jenderal yang banyak berjasa dalam
Perang Riddah ini.
Nampaknya,
kekuasaan yang dijalankan pada masa Khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa
Rasulullah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif dan yudikatif
terpusat di tangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, Khalifah
juga melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu
Bakar selalu mengajak sahabat-sahabat besarnya bermusyawarah.
Setelah
menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengirim kekuatan
ke luar Arabia. Khalid ibn Walid dikirim ke Iraq dan dapat menguasai al-Hirah
di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi di bawah pimpinan empat jenderal
yaitu Abu Ubaidah, Amr ibn ‘Ash, Yazid ibn Abi Sufyan dan Syurahbil. Sebelumnya
pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun. Untuk memperkuat
tentara ini, Khalid ibn Walid diperintahkan meninggalkan Irak, dan melalui
gurun pasir yang jarang dijalani, ia sampai ke Syria. Salah satu hal monumental
pada era Abu Bakar ra adalah pengumpulan mushaf al Quran dari para
sahabat-sahabat yang lain, yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit ra.
C.
Umar Bin
Khottob (634-644 H)
Abu Bakar
meninggal dunia, sementara barisan depan pasukan Islam sedang mengancam
Palestina, Irak, dan kerajaan Hirah. Ia diganti oleh “tangan kanan”nya, Umar
ibn Khattab. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah
dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar sebagai penggantinya
dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan
di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima
masyarakat yang segera secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut
dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan
istilah Amir al-Mu’minin (Komandan orang-orang yang beriman).
Di zaman
Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan) pertama terjadi; ibu kota
Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan setahun kemudian, setelah tentara
Bizantium kalah di pertempuran Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah
kekuasaan Islam. Dengan memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke
Mesir di bawah pimpinan ‘Amr ibn ‘Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa’ad ibn
Abi Waqqash. Iskandaria, ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641 M. Dengan
demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat
Hirah di Iraq, jatuh tahun 637 M. Dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota
Persia, al-Madain yang jatuh pada tahun itu juga. Pada tahun 641 M, Mosul dapat
dikuasai. Dengan demikian, pada masa kepemimpinan Umar, wilayah kekuasaan Islam
sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia,
dan Mesir.
Karena
perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur administrasi negara
dengan mencontoh administrasi yang sudah berkembang terutama di Persia.
Administrasi pemerintahan diatur menjadi delapan wilayah propinsi: Makkah,
Madinah, Syria, Jazirah Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa
departemen yang dipandang perlu didirikan. Pada masanya mulai diatur dan
ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam
rangka memisahkan lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga
keamanan dan ketertiban, jawatan kepolisian dibentuk. Demikian pula jawatan
pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa mata uang, dan
menciptakan tahun hijrah.
D. Utsman Bin Affan (644-656 H)
Di masa
pemerintahan Utsman (644-655 M), Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian
yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristall berhasil direbut.
Ekspansi Islam pertama berhenti sampai di sini.
Pemerintahan
Usman berlangsung selama 12 tahun, pada paruh terakhir masa kekhalifahannya
muncul perasaan tidak puas dan kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya.
Kepemimpinan Usman memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini mungkin
karena umumnya yang lanjut (diangkat dalam usia 70 tahun) dan sifatnya yang
lemah lembut. Akhirnya pada tahun 35 H 1655 M, Usman dibunuh oleh kaum
pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang kecewa itu.
Salah satu
faktor yang menyebabkan banyak rakyat kecewa terhadap kepemimpinan Usman adalah
kebijaksanaannya mengangkat keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting
diantaranya adalah Marwan ibn Hakam. Dialah pada dasarnya yang menjalankan
pemerintahan, sedangkan Usman hanya menyandang gelar Khalifah. Setelah banyak
anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting, Usman laksana
boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat berbuat banyak dan terlalu
lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak tegas terhadap kesalahan bawahan.
Harta kekayaan negara, oleh karabatnya dibagi-bagikan tanpa terkontrol oleh
Usman sendiri.
Meskipun
demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada kegiatan-kegjatan yang
penting. Usman berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar
dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalan-jalan,
jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi di Madinah.
Penulisan Al Quran dilakukan kembali pada masa sayidina Utsman ra. Ini terjadi
pada tahun 25 H. Dan al Quran yang kita pegang saat ini adalah mushaf
Utsman.
E. Ali Bin Abi Tholib (656-661 H)
Setelah
Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai
khalifah. Ali memerintah hanya enam tahun. Selama masa pemerintahannya, ia
menghadapi berbagai pergolakan. Tidak ada masa sedikit pun dalam pemerintahannya
yang dapat dikatakan stabil. Setelah menduduki jabatan khalifah, Ali memecat
para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa
pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik
kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil
pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak
tahunan diantara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar.
Tidak lama
setelah itu, Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan
Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh Utsman, dan mereka
menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah ditumpahkan secara zalim. Ali
sebenarnya ingin sekali menghindari perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah
dan Zubair agar keduanya mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara
damai. Namun ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun
berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena Aisyah
dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil mengalahkan lawannya.
Zubair dan Thalhah terbunuh ketika hendak melarikan diri, sedangkan Aisyah
ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.
Bersamaan
dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali juga mengakibatkan timbulnya
perlawanan dari gubernur di Damaskus, Mu’awiyah, yang didukung oleh sejumlah
bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaan. Setelah
berhasil memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali bergerak dari
Kufah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya bertemu dengan
pasukan Mu’awiyah di Shiffin. Pertempuran terjadi di sini yang dikenal dengan
nama perang shiffin. Perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim
ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan
ketiga, al-Khawarij, orang-orang yang keluar dari barisan Ali. Akibatnya, di
ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib umat Islam terpecah menjadi tiga
kekuatan politik, yaitu Mu’awiyah, Syi’ah (pengikut) Ali, dan al-Khawarij
(oran-orang yang keluar dari barisan Ali). Keadaan ini tidak menguntungkan Ali.
Munculnya kelompok al-khawarij menyebabkan tentaranya semakin lemah, sementara
posisi Mu’awiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40 H (660 M), Ali
terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij.


































